“Kau lumpuh?”

Pandangan pria itu melayang penasaran, karena tak pijak kakiku dari pasir selama berjam-jam. Mungkin dikira dibuang bagai kantong plastik bekas pesanan online. Pantai itu sepi. Hanya ada kami. Settingnya malam hari.

“Tidak. Mungkin. Tidak tahu.”

Tidak tahu ucapku adalah fakta. Benar tidak tahu, karena lumpuh tidak merujuk pada kaki saja. Pikiran, rasa, keinginan hidupku sudah mirip lumpuh.

“Kemana orangmu?”

Pertanyaan atau hinaan, aku kembali tidak tahu. Orangku, tidak bisa disebut orangku, dari awal bukan orangku. Dirinya hanya miliknya sendiri, tak pernah bisa ku dekap hangat ketika hangatku hanya membuat abu.

“Tidak tahu.”

Benar tidak tahu, apa dia sudah bersahabat dengan senang? Tidur ditemani tenang? Apa ada yang berisik lagi di dekat telinganya, mengganggu segala pikirnya? Tidak tahu, aku terlalu jauh untuk tahu.

Haruskah lebih jauh lagi?

Pikirku setelah pria yang bertanya lewat begitu saja ketika diriku berangan. Jauh, sudah jauh. Kiranya aku hilang ditelan laut pun dia akan menjawab tidak tahu juga, bukan? Haruskah aku pergi berkompromi dengan laut? Biar laut yang memanjakanku, membawaku lebih jauh, sampai tak tersisa hangatku, sehingga kamu tak kembali jadi abu.