Written by Taeszan Tevaughan.
TW! Violence, Depression.
Bagaimana rasanya ketika anda membenci bayangan anda sendiri? Berdiri di antara puing-puing kekecewaan, menjadi musuh cermin, dan pada akhirnya bersembunyi di balik gelapnya malam karena tidak disukai oleh cahaya. Batin yang terhimpit oleh reminisensi lara nang menyesakkan, pikiran yang terjerat dalam untaian kata serapah.
Sudah berapa kali anda meminta maaf pada diri sendiri, tetapi pada akhirnya dilakukan kembali? Aneh. Mau berapa kali dipikirkan pun tetap aneh. Di saat orang lain mendukung dan memuja, mengapa anda malah menghina? Ah, apakah ribuan pelipur lara pun tidak cukup untuk membuat anda menyukai bayangan anda sendiri? ‘Dahayu,’ sepertinya susah sekali mengucapkan kata itu. Yah … Bibir saya sudah terkunci, mau bagaimana lagi? Bagai sudah diatur untuk mengucapkan hinaan saja. Ekspektasi tinggi, demi berdiri di atas puncak cakrabuana. Perfeksionis, sebutan bagi orang-orang itu. Saya termasuk.
“Jenaka, kamu ga belajar pun udah bisa! Udah di luar kepala!” ucap salah seorang teman saya, Sincan, ketika melihat saya yang sedang berkutat dengan buku-buku sosiologi. Saya tersenyum, memperlihatkan deretan gigi saya yang rapi. Segini saja mana cukup, Can?
Saya menatapnya dengan hangat, “Tetap aja, Can. Harus belajar. Masih banyak yang saya ga ngerti.”
Bohong. Hampir semuanya sudah terpatri dalam ingatan saya. Namun, saya tidak pernah bisa berhenti belajar sampai waktunya benar-benar habis, karena saya tidak pernah merasa cukup. Selalu saja ada yang kurang, apapun itu. Sincan, alias Senja Kencana, selalu menjadi orang yang pertama untuk menaruh rasa khawatir. Insan yang tidak pernah habis pikir dengan kehidupan dan rutinitas saya yang terlalu ambisius. Saya pikir, lama-kelamaan dia juga akan lelah tuk’ peduli. Omong-omong, Sincan adalah nama panggilan dari saya untuknya, karena Senja Kencana mempunyai alis yang tebal, mirip seperti karakter Shinchan.
Tes.
Darah mengucur dari jalur pernapasan saya. Lembar putih di hadapan saya ternodai cairan merah, terlihat jelas. Sejak dulu, darah dan lembar putih selalu menjadi saksi bisu atas hasil kerja keras saya. Jangan lupakan meja-meja, pulpen, pensil, penggaris, penghapus, dan kawan-kawannya itu.